Logo
images

Truk besar melintas pada siang hari di Jalan Jendral Sudirman, Rabu (18/12/2019).

Sudah Ada Aturan, Kenapa Transformers Masih Membangkang

Said Didu Minta Pemkot Tangerang Tegas

Fokustangerang.com – Seperti merupakan hal yang biasa, kecelakaan yang melibatkan muatan besar kerap terjadi di Tangerang. Padahal, aturan tentang jam operasional truk sudah di atur melalui Perwal Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang dan juga Kabupaten Tangerang.

Menjadi pengendara armada yang mengangkut muatan besar seperti tanah dan material tentunya tidaklah mudah. Pasalnya, selalin harus melihat aturan yang telah ditetapkan di setiap daerah, pastinya si pengendara truk besar harus lebih sabar dalam mengantar bawaan mereka ke tempat tujuan.

Tapi, berbeda pada kenyataannya, kebanyakan dari pengendara kendaraan besar ini seakan menjadi malaikat pencabut nyawa bagi masyarakat kecil yang menggunakan jalan umum berbarengan dengan mereka.

Hidayat, salah seorang warga Kota Tangerang yang dijumpai Fokustangerang.com di Jalan KH Hasyim Ashari pada Rabu (18/12/2019) mengatakan wilayah yang setiap hari ia lewatinya ini sering menjadi jalur kendaraan besar dengan muatan tanah atau yang disebut ‘Transformers’. Terlebih lagi saat pembangunan proyek nasional pembuatan jalur Tol Kunciran – Bandara Soetta.

“Kalau sekarang si udah enggak ya. Tapi sebelumnya mereka lewat seakan tidak pernah melihat waktu, padahal setahu saya sudah ada aturan yang mengatur jam operasional kendaraan besar ini,” ucap dia.

Hal yang diungkapkan Hidayat tentulah benar. Dalam aturannya Pemerintah Kota Tangerang jelas mengatur dalam Peraturan Walikota (Perwal) Nomor 30 Tahun 2012, tentang berlakunya jam operasional truk pengakut tanah yang bertonase berat.

Namun Perwal yang dikeluarkan Wali Kota Arief R Wismansyah ini nampaknya hanya menjadi catatan sejarah saja. Pasalnya, dari keluarnya Perwal No 30 Tahun 2012 ini tidak sedikit pengusaha truk maupun paara kontraktor yang tetap membandal.

Pada Bulan Agustus 2019 ini, nampaknya aksi dari pengendara Transformers ini membuat orang no satu di Kota Tangerang ini geram maksimal. Kali ini, kecelakaan maut terjadi di Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang.

Dalam kecelakaan yang melibatkan mobil dengan tonase besar dengan muatan tanah yang masih full ini masyarakat benar dibuat geram. Saat itu satu keluarga yang menggunakan minibus tertimpa muatan tanah dalam mobil yang mereka kendarai.

Dalam kecelakaan tersebut empat orang dipastikan meninggal dunia dan hanya satu orang balita yang masih dapat tertolong.

Atas kejadian tragis yang terjadi pada pagi buta ini, jelas Arief geram lantaran warganya menjdi korban dalam aksi koboi para pengendara Transformers.

Alhasil, Arief mengeluarkan surat edaran yang jelas menglarang aktivitas truk tanah pada jam sibuk. Peraturan tersebut dituangkan Arief dalam Perda No 8/2018 tentang Ketentraman, Ketertiban Umum, dan Perlindungan kepada Masyarakat.

Perda No 8/2018 Diharapkan Jadi Solusi

Menurut Arief saat itu, sesuai dengan Perda No 8/2018 tentang Ketentraman, Ketertiban Umum, dan Perlindungan kepada Masyarakat, Pemkot Tangerang perlu mengatur operasional truk.

Atas kegelisahannya Arief waktu itu dengan tegas, melarang semua truk bermuatan berat masuk ke Kota Tangerang. Hal ini sebagai efek jera, kepada semua perusahaan tambang-pengembang.

“Bukan kami tidak mau mendukung proyek pembangunan. Tetapi kalau sudah begini mau bagaimana? Tidak ada. Tidak perlu pemanggilan pengusaha lagi. Mereka yang harus datang dan berjanji,” ujar Arief kala itu.

Larangan ini pun tertuang dalam Surat Edaran No 024/2685-Dishub/2019 tentang Pelarangan Operasional bagi Angkutan Tanah/Pasir di wilayah Kota Tangerang. Edaran ini berisi empat poin, pertama, dilarang mengoperasionalkan pengangkutan tanah/pasir atau sejenisnya pada jalan-jalan yang berada di Kota Tangerang.

Poin kedua berisi penekanan tentang kendaraan truk di poin pertama. Penekanan itu, ada pada kendaraan truk dengan jumlah berat yang dibolehkan lebih dari 8.500 kg, tronton, dan kendaraan tempelan, serta kereta gandeng. Pelanggaran edaran ini, akan dikenakan sanksi sesuai dengan aturan yang ada di dalam Perundang-Undangan. Aturan ini, diteken 1 Agustus 2019, dan mulai berlaku saat itu juga.

Namun begitu, aturan seakan hanyalah aturan. Berjalannya waktu, mobil dengan muatan besar yang melintas kembali diperbolehkan memasuki Kota Tangerang dengan aturan dan ketentuan tertentu.

Akan tetapi, aturan yang telah disebutkan dan diharapkan dapat menjadi kerjaan bagi pihak terkait dalam hal ini Dishub Kota Tangerang dan Satlantas Polres  Metro Tangerang hanya dijalankan beberapa waktu saja.

Saat itu dua unsur terkait ini sangat rutin melakukan sweaping dan juga operasi untuk menjaring truk yang masih juga membandal. Saat itu puluhan truk dapat terjang dan seakan menjadi prestasi bagi mereka dalam melakukan tindakan berdasarkan aturan.

 

 

TRANSFORMERS KEMBALI MERESAHKAN

Baru berjalan beberapa waktu dari ketegasan pemerintah daerah dan juga aparat kepolisian, kini transformers kembali membuat ulah.

Bahkan, pada Rabu 11 Desember 2019 korban yang jatuh akibat arogansi dan sikap ugal-ugalan pengendara truk tanah ini merupakan keluarga dari Mantan Sekjen BUMN RI Said Didu.

Saat itu, mobil Mini Cooper yang dikendarai sang istri dengan anaknya di depan pusat perbelanjaan Tangerang City Mall menjadi sasaran dari truk tanah. Beruntung dalam kejadian tersebut pengendara tiak mengalami luka. Namun kendaraan yang bernilai cukup mahal itu mengalami kerusakan di bagian body.

Saat itu Said Didu mengaku menganggap masalah ini sebuah musibah yang tidak dapat dihindari. Dan dirinya saat itu mengaku hanya ingin menyelesaikan secara kekeluargaan saja.

Tetapi hingga satu pekan berlalu, kata Said saat berbincang dengan Fokustangerang.com Said Didu rupanya geram dan akan melanjutkan proses hokum yang menimpa keluarganya ini ke Mapolres Metro Tangerang.

“Saya sudah ada itikad baik dan menunggu selama enam hari. Tapi tidak ada itikat baik dari perusahaan truk itu yang seakan menggampangi saya sebagai rakyat kecil. Akhirnya saya laporkan lanjut,” kata Said Didu.

 

PERMASALAHAN TRUK BESAR JUGA MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMKOT

Meskipun kasus ini masih dalam penanganan Satlantas Polres Metro Tangerang, Said Didu menganggap permasalahan yang kerap terjadi dan meresahkan masyarakat dalam hal ini pengguna jalan umum, pihak Pemerintah Kota Tangerang juga harus bertanggungjawab.

“Itu kesalahan Polisi dan Dishub (Pengaturan opersional truk dengan muatan besar) dan semua harus dibuka,” ujarnya.

Said meminta, Pemkot Tangerang segera membuat komitmen dengan perusahaan truk yang melintas di Kota Tangerang. Hal ini, menurut dia, agar tidak lagi terjatuh korban jiwa atas aksi ugal-ugalan pengendara truk tanah.

“Sudah banyak korban dari arogansi pemilik truk. Pemerintah Kota Tangerang dan juga Polisi harus bisa bertindak tegas,” kata dia.

Said berharap, apa yang ia perjuangkan atas pengungkapan kasus yang meninpa istri dan anaknya ini segera dapat diselesaikan secara hukum dengan adil. Hal itu menurut dia agar masyarakat Kota Tangerang maupun pengguna jalan umum tidak resah saat melintas di kota dengan jargon Kota Industri dan Ahlakul Karimah. (BAL/SAN)



Tinggalkan Komentar