Logo
images

Janim dan sang istri yang tinggal berdampingan dengan entok. Dok Fokus Tangerang.

Miris, Warga Kabupaten Tangerang Puluhan Tahun Tinggal Bersama Entok

 
TANGERANG - Kemiskinan yang menjerat warga Desa Kampung Melayu Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang, memaksa sepasang suami istri harus hidup berdampingan dengan kandang entok. Ironisnya, sudah puluhan tahun Janim, (70) dan sang istri Iti, (62), hidup tanpa bantuan sedikit pun dari pemerintah daerah setempat.
 
Jangankan untuk memperbaiki rumah di RT03/07 yang terbuat dari bilik bambu, untuk makan sehari-hari saja kakek dan nenek itu sudah kesulitan. Padahal Janim hanya berprofesi sebagai petani di desa itu, dan baru mendapatkan penghasilan setiap tiga bulan sekali atau setiap panen.
 
Itupun dari hasil panennya Dia hanya dapat memperoleh uang sebesar Rp2 juta, sementara sang istri Iti hanya mampu membantu perekonomian keluarga mereka dengan berjualan nasi dengan keuntungan tidak lebih dari Rp20 ribu sampai Rp50 ribu perhari.
 
Satu-satunya harapan untuk membuat dapur mereka tetap ngebul dengan berternak entok, meskipun hasil jual telur dan bebek sangat kecil. Belum lagi Janim dan Iti juga diketahui mengangkat seorang anak yatim-piatu yang baru berusia 10 tahun.
 
Janim mengatakan, rumah bilik bambu itu merupakan harta satu-satunya peninggalan orang tua Janim, semula rumah itu dihuni oleh istri dan tiga orang anak kandungnya. Dua anak kandung Janim meninggal dunia sejak usia mereka masih kecil, karena menderita penyakit.
 
"Sekarang hanya tinggal anak bontot saja yang bernama Wawan, 35 tahun, dan Wawan juga hanya bekerja serabutan," jelasnya, Senin (9/11/2019).
 
Janim menjelaskan, melihat kondisi orang tuanya yang kesulitan, membuat Wawan enggan untuk menikah. Meskipun hanya bekerja serabutan, Wawan memilih fokus membantu perekonomian keluarga.
 
"Pengennya anak kandung satu-satunya menikah dan berkeluarga, tapi itu pilihan dia," ujarnya.
 
Janim saat mengurus entok miliknya
 
Janim bercerita kondisi ekonomi keluarga semakin sulit, apalagi cuaca beberapa tahun terakhir ini tidak bisa diprediksi meskipun musim hujan dan kering sudah dipastikan waktunya. Di usia saat ini, Janim hanya mengandalkan hasil bertaninya dan itu pun bukanlah lahan pertanian miliknya sendiri tetapi milik orang lain yang iba terhadapnya.
 
"Hasilnya baru terasa setiap tiga bulan sekali dan itu juga tidak lebih dari Rp2 juta, jadi penghasilan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup selama tiga bulan berikutnya. Belum lagi membayar hutang sana ke tetangga dan juga hutang untuk biaya selama bertani," katanya.
 
Menurut Janim, berbagai bantuan sosial yang diterima tetangganya tidak pernah ia rasakan sejak 10 tahun silam, baik bantuan dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Tidak adanya wawasan serta akses untuk mendapatkan bantuan itu juga menjadi kendala utama.
 
"Pernah Bantuan Langsung Tunai (BLT) tetapi itu juga sudah lama, sudah puluhan tahun. Sekarang sudah tidak dapat lagi, malah yang rumahnya bagus dapat bantuan," ungkapny.
 
Janim tidak merasa iri terhadap warga lainnya yang mendapatkan bantuan tersebut, ia hanya memikirkan di usia senjanya untuk menafkahi dan menyekolahkan anak angkatnya bernama Siti. Di usianya yang menginjak 10 tahun, Siti baru duduk di bangku sekolah dasar kelas 2, memang sedikit terlambat tetapi Janim bersyukur anak angkatnya bisa mengenyam pendidikan seperti anak-anak di usianya.
 
"Untuk sehari-hari Siti juga cukup sulit, selain saya sebagai orang tua angkatnya Siti juga punya orang tua angkat lainnya yang suka membantu," ucap Janim.(IRW/BAL)


Tinggalkan Komentar